√ Teori Erik Erikson – Biografi, Perkembangan, Teori [Terlengkap]

Teori Erik Erikson

Teori Erik Erikson – Pembentukan sebuah karakter yang baik itu akan berguna sebagai salah satu bekal untuk anak. Baik dalam menghadapi suatu lingkungan sosial sendiri, atau juga menentukan kemampuan berjuang dalam menghadapi sebuah masalahnya sendiri.

Semua orang tua pasti menginginkan anaknya untuk bisa mempunyai kemampuan untuk berjuang sendiri dalam kehidupannya. Maka dari hal tersebutlah pembentukan karakter pribadi pada anak itu menjadi sesuatu yang sangatlah penting sekali untuk dipelajari.

Banyak sekali teori mengenai perkembangan psikologi anak, seperti psikologi erikson yang diciptakan olehnya. Simak ulasan di bawah ini dengan seksama.

Biografi Singkat Erikson

Teori Erik Erikson
Verrywellmind.com

Pria yang berkelahiran (15 Juni 1902) yang bernama Erik Homburger Erikson merupakan salah seorang ahli psikologi perkembangan serta psikoanalis yang berkebangsaan Jerman, dan biasa dikenal terhadap sebuah teorinya.

Erikson ini terlahir sebagai seorang anak yang memiliki keturunan dari Jerman, sedangkan ibunya itu seorang Yahudi, tetapi dia ini cuma mengenal ayah tirinya yang juga Yahudi.

Sehingga waktu kecilnya itu selalu diejek karena menjadi satu-satunya anak yang berambut pirang serta memiliki mata biru di lingkungan Yahudi.

Baca Juga : Teori Atom Rutherford

Untuk di lingkungan sekolah yang umum itu justru selalu diejek sebagai seorang Yahudi. Sepanjang hidupnya erikson ini berada dalam kebimbangan mengenai identitas dirinya sendiri. Hingga membuat keputusan untuk mengganti nama.

Erikson merupakan nama buatannya sendiri yang ditetapkan olehnya, demi menentukan identitas pribadinya.

Ketika ia hendak mengajar seni pada salah satu sekolah di Wina, dia itu mendapatkan sekolah tersebut mempraktekkan teori psikoanalisis atas pengawasan putri dari Sigmund Freud. Anna melihat sikap pedulinya Erikson terhadap anak-anak.

Kemudian menyarankan supaya Erikson mempelajari mengenai psikoanalisis di Institut Psikoanalisis Wina. Di sana memakai pengajaran para ahli, Erikson ini mempelajari spesialisasi mengenai analisa psikologi pada anak-anak.

Dia juga mempelajari metode montessori dalam sebuah pendidikan yang berfokus pada sebuah perkembangan anak serta tingkatan seksualnya.

Perkembangan Psikososial dan Ego Erikson

Teori Erik Erikson Sosial
Jurnalislam.com

Salah satu dari teori Erikson yang membahas seputar perkembangan manusia itu dikenal dengan istilah perkembangan psikososial. Teori ini merupakan salah satu teori mengenai kepribadian yang terdapat dalam psikologi.

Seperti halnya Sigmund Freud, Erikson juga mempercayainya bahwa kepribadian seseorang itu akan terus berkembangan melewati beberapa tahapan tertentu.

Salah satu dari elemen yang sangat penting sekali dari tahapan psikososial Erikson yaitu perkembangan tentang persamaan ego, sebuah perasaan sadar yang kita tingkatkan melalui sebuah proses interaksi sosial.

Perkembangan ego itu akan terus berubah berdasarkan sebuah informasi dan juga pengalaman baru yang didapatkan seseorang sebagai sebuah hasil dari interaksinya dengan orang lain.

Ego yang paling sempurna menurut Erikson ini adalah yang terkandung tiga aspek utama, antara lain:

  • Universalitas – Yang berkaitan dengan kesadaran terhadap sebuah kenyataan atau disebut sense of reality, yang menyatukan hal praktis serta konkrit dengan pandangan terkait seluruh semesta.
  • Akualitas – Adalah sebuah cara untuk memperkuat suatu hubungan dengan orang lain agar mencapai sebuah tujuan bersama.
  • Fakultas – merupakan kemampuan fakta serta data yang bisa diverifikasi dengan metode kerja yang dipakai, sebagai hasil dari sebuah interaksi dengan lingkungan di sekitar.

Selain tiga aspek utama yang sudah disebutkan di atas, Erikson juga mempercayai bahwa kemampuan untuk memotivasi sikap serta suatu perbuatan seseorang itu bisa memicu terhadap perkembangan menjadi lebih positif.

Hal tersebut yang kemudian mendasari akan penyebutan teorinya sebagai teori perkembangan psikososial.

Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson

Teori Erik Erikson
Pixabay.com

Dasar dari teori Erikson yaitu sebuah konsep yang memiliki tingkatan. Terdapat sekitar delapan tingkatan yang menjadi bagian dari teori psikososial Erikson tersebut, dan akan dilalui oleh oleh manusia.

Setiap manusia itu bisa naik ke tingkat berikutnya, walaupun tidak sepenuhnya selesai mengalami perkembangan di tingkatan sebelumnya.

Jadi, setiap tingkatan dalam teori ini berhubungan dengan semua bidang kehidupan yang berarti kalau setiap tingkatan itu terselesaikan dengan baik oleh manusia, maka individu itu akan merasa pintar.

Baca Juga : Teori Lokasi Industri

Sebaliknya kalau tingkatan-tingkatan tersebut itu tidak terselesaikan dengan baik, maka akan muncul sebuah perasaan yang tidak selaras dengan orang tersebut.

Erikson ini sangat percaya bahwa pada setiap tingkatan ini seseorang akan mengalami konflik atau krisis yang bisa menjadi titik balik pada setiap perkembangannya. Menurut pendapat dia, bahwa konflik-konflik itu terpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan dalam pengembangan kualitas tersebut.

Selama masa saat ini, potensi dalam pertumbuhan pribadi itu meningkat dan sejalan dengan potensi kegagalannya juga.

Tahapan dalam Perkembangan Psikososial Erikson

Teori Erik Erikson Sesioemosi
Pixabay.com

Teori psikososialnya Erikson ini berkaitan dengan sebuah prinsip-prinsip dari perkembangan secara psikologi serta sosial. Dan ini juga merupakan sebuah bentuk pengembangan dari teori psikososial dari dari Sigmund Freud.

Berikut merupakan delapan tahapan yang dibuat oleh Erikson, antara lain:

Otonomi vs Malu dan Ragu-Ragu (Autonomy vs Shame and Doubt, 18 Bulan-3 Tahun)

Kemampuan seorang anak untuk melakukan sebagian hal pada tahapan ini telah berkembang, misalnya seperti makan sendiri, serta berbicara. Kepercayaan yang diberikan oleh orang tua memberikan sebuah kesempatan bereksplorasi sendiri atas bimbingan akan bisa membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dan yakin.

Sebaliknya, orang tua yang membatasi dan bersikap kepada anak, itu bisa membentuk anak berkembang dan akan menjadi pribadi yang pemalu dan tidak mempunyai rasa kepercayaan pada dirinya serta tidak mandiri.

Anak itu bisa menjadi lemah dan juga tidak kompeten, sehingga terus merasa ragu-ragu serta pemalu terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Trust vs Mistrust ( Percaya atau Tidak Percaya, 0-18 Bulan)

Berawal dari sebuah ketergantungan. Hal yang paling pertama diajarkan kepada sang anak atau bayi dari lingkungan di sekitarnya yaitu rasa percaya dengan orang di sekitarnya, terutama kepada sang ibu atau pengasuhnya yang setiap hari selalu bersamanya.

Jika suatu kebutuhan seorang anak sudah dipenuhi oleh sang ibu seperti makanan serta kasih sayang, maka si anak tersebut akan merasakan keamanan dan juga kepercayaan.

Namun, jika sang ibu atau si pengasuh itu tidak merespon akan kebutuhan si anak tersebut, maka anak akan menjadi seorang yang selalu merasa tidak aman atau tidak bisa mempercayai orang lain.

Menjadi seorang yang selalu skeptis serta menghindari hubungan dan di dasari saling percaya selama hidupnya.

Kelebihan dari Teori Erik Erikson

Teori Erik Erikson
koinworks.com

Sebenarnya teori dari Erikson ini merupakan salah satu pengembangan dari teori Freud. Hal tersebut dikarenakan banyak yang lebih memilih teori Erikson daripada Freud, karena Erikson itu mencangkup seluruh masa dan juga tahapan kanak-kanak sampai lanjut usia.

Kalau Freud itu hanya sebagian diantaranya yaitu hingga masa remaja. Karena banyak orang yang tidak percaya bahwa manusia didominasi dengan naluri seksual dan mereka seperti apa yang dinyatakan Freud.

Erikson banyak sekali menangkap sebuah masalah utama dalam kehidupannya yang menjadi dasar pembentukan sebuah teori psikososialnya itu.

Baca Juga : Teori Permintaan dan Penawaran Uang

Teori psikososial Erikson ini dianggap sangat lebih realistis, dikarenakan membawa aspek sebuah kehidupan seperti sosial serta budaya. Setiap teori pasti mempunyai sebuah kelebihan serta kekurangan masing-masing,.

Namun, teori psikososial Erikson tersebut sudah mendasari banyak sekali metode pendidikan serta pengasuhan kepada anak-anak usia dini. Para orang tua juga bisa mendasarkan pola pengasuhan mereka dengan teori ini jika ingin terbentuk dengan baik serta mempunyai kepribadian dan karakter yang positif.

Nah, demikian pembahasan seputar teori Erik Erikson yang bisa kami berikan dalam bentuk tulisan yang masih belum sempurna. Semoga artikel ini bisa menjadi wadah untuk kalian dalam memperabaiki aspek kehidupan sehari-hari serta bisa bermanfaat.

Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like